Selanjutnya, mereka yang akan
mengenali Yesus (as) selama kedatangannya yang
kedua dan mengikutinya, pasti adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Al-Qur'an serta
berfikir secara mendalam tentang segala sesuatu.
Badiuzzaman Said Nursi juga menggambarkan hal ini
dengan mengatakan:
Sesungguhnya,
walaupun Isa (as) datang, maka dia sendirilah yang
akan mengetahui bahwa dirinya adalah Isa (as),
bukan orang lain.2
Sifat-Sifat Apa yang Dimilikinya Sehingga Dia Bisa
Dikenali?
Sebagaimana disebutkan di atas,
merujuk kepada Al-Qur'an dalam mencari jawaban
dari pertanyaan-pertanyaan ini, yang seharusnya
pertama-tama kita lakukan adalah mencari
sifat-sifat umum yang dimiliki oleh para nabi dan
rasul yang diterangkan dalam Al-Qur'an. Karenanya,
cara untuk mengenali Yesus (as) adalah dengan
menguji sifat-sifat dari para nabi dan rasul.
Tentu, ada beratus-ratus jumlahnya, namun dalam
bab ini kita akan menekankan pada sifat-sifat yang
paling banyak muncul yang dengan segera menjadi
jelas.
1. Dia berbeda dari manusia kebanyakan karena
nilai-nilai moralnya yang luar biasa
Seperti halnya semua nabi yang
dipilih oleh Allah untuk menyampaikan
ajaran-ajaran-Nya kepada umat manusia, Yesus (as)
dikenal karena nilai-nilai moralnya yang istimewa.
Sifat yang paling membedakannya adalah
keteladanannya, yang dengan segera akan tampak
dalam masyarakat di mana ia tinggal. Tentu, dia
mempunyai suatu karakter keteladanan yang belum
pernah terjadi sebelumnya di alam ini dan
mempengaruhi siapa saja pada pandangan pertama. Ia
adalah seorang yang sangat komitmen, pemberani dan
kuat, manifestasi dari kebenaran dia sandarkan
kepada Allah, dan kemurnian keimanannya
kepada-Nya. Dengan karakter yang demikian, dia
mempunyai pegaruh yang disukai oleh setiap orang.
Kemuliaannya ini, yang juga dimiliki oleh semua
nabi, diterangkan dalam ayat:
Dan itulah hujjah
Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk
menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami
kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya, Tuhanmu
Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah
menganugrahkan Ishaq dan Ya'qqub kepadanya. Kepada
keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk;
dan kepada Nuh sebelum itu juga telah Kami beri
petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh),
yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan
Harun. Demikianlah Kami beri balasan kepada
orang-orang yang berbuat baik, dan Zakariya,
Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk
orang-orang yang saleh, dan Ismail, Ilyasa',
Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan
derajatnya di atas umat (pada masanya), dan Kami
lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak
mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara
mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk
menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami
menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Surat al-Anaam: 83-87 )
Sifat-sifat yang Allah berikan
kepada para nabi dan rasul-Nya diungkapkan dengan
tepat dalam ayat di atas. Ada banyak contoh lain
yang dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Pernyataan-pernyataan di bawah ini memberitahukan
kepada kita tentang sifat-sifat mulia yang
diberikan kepada para nabi dan rasul:
Sesungguhnya,
Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan
teladan lagi patuh kepada Allah lagi hanif... (Surat an-Nahl: 120)
Dan ingatlah
hamba-hamba kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang
mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan
ilmu-ilmu yang tinggi. (Surat Shaad: 45)
Dan sesungguhnya
mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk
orang-orang pilihan yang terbaik. (Surat Shaad:
47)
Dan sesungguhnya
Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman;
dan keduanya mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah
yang melebihkan kami dari kebanyakan
hamba-hamba-Nya yang beriman (Surat an-Naml: 15)
Yesus (as) juga merupakan salah
seorang nabi pilihan Allah. Allah berfirman dalam
ayat,
Rasul-rasul itu
Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian
yang lain. Di antara mereka ada yang Allah
berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya
Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami
berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat
serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus... (Surat
al-Baqarah: 253)
2. Dia akan dikenali pada ekspresi wajahnya yang
hanya dapat dilihat pada diri para nabi dan rasul
Allah menginformasikan kepada
kita dalam Al-Qur'an bahwa kemuliaan mereka yang
dipilih-Nya dapat dikenali melalui pengetahuan dan
juga melalui kekuatan fisik yang dimilikinya:
...Nabi (mereka)
berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya
menjadi rajamu dan menganugrahinya ilmu yang luas
dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan
pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha
Mengetahui.
(Surat al-Baqarah: 247)
Dengan dianugerahi hikmah,
kekuatan fisik, pengetahuan, dan karakter yang
sempurna, Yesus (as) akan mempunyai suatu ekspresi
wajah yang hanya dapat dilihat pada diri para nabi
dan rasul. Rasa takutnya kepada Allah dan cahaya
keimanannya yang tulus akan tampak pada raut
wajahnya. Ekspresi pada wajahnya ini langsung
membedakannya dari manusia kebanyakan dan manusia
yang melihatnya akan segera merasakan bahwa mereka
sedang bertemu dengan orang yang istimewa. Tentu,
tidak semua orang akan menyepakati hal ini. Di
luar itu, akan ada beberapa orang yang tidak
mengacuhkan kemuliaan ini. Alih-alih merasakannya
ke lubuk hati yang dalam, mereka memberikan
penolakan yang telak, menganggap kehadirannya
sebagai ancaman bagi eksistensi mereka. Hanya
mereka yang mempunyai keimanan yang tulus yang
akan memahami kemuliaan ini dan memberikan
penghargaan kepadanya.
Allah menghinformasikan kepada
kita bahwa Yesus (as) adalah "...seorang
terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah
seorang di antara orang-orang yang didekatkan
(kepada Allah)" (Surat Ali Imran: 45)
Karenanya, Yesus (as) akan dikenali oleh mereka
yang berada di sekelilingnya karena kehormatan dan
keistimewaan yang hanya dapat dilihat pada mereka
yang telah dipilih Allah.
3. Dia mempunyai hikmah terkemuka dan lisan yang
tegas
Itulah petunjuk
Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada
siapa yang dikehendaki-Nya di antara
hamba-hamba-Nya... (Surat al-Anaam: 89)
Sepanjang sejarah Allah
menyampaikan pesan ajaran dan wahyu-Nya melalui
para utusan-Nya. Dia juga menganugrahkan hikmah
kepada para utusan ini: gaya bicara yang lugas dan
tegas, sikap yang penuh keteladanan dalam
menggabungkan aksi-aksi kebenaran dan dalam
mencegah perbuatan-perbuatan mungkar. Semua itu
merupakan sifat-sifat umum yang dimiliki oleh para
nabi dan rasul. Dalam Al-Qur'an, Allah juga
memberikan perhatian kepada hikmah yang
dianugrahkan kepada setiap nabi. Misalnya, untuk
Nabi Daud (as), Allah berfirman: "Dan
Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan
kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam
menyelesaikan perselisihan." (Surat Shaad:
20) Hal yang sama bagi Nabi Yahya (as): "Hai
Yahya, ...Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi
ia masih kanak-kanak." (Surat
Maryam: 12) Tentang Musa (as), Allah
memberitahukan kepada kita:
"Dan setelah Musa
cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan
kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan..." (Surat
al-Qashash: 14)
Ayat yang serupa juga menyebutkan: "Dan
sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada
Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah...'
(Surat
Luqman: 12). Allah juga berfirman:
"...Sesungguhnya,
Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada
keluarga Ibrahim..." (Surat an-Nisaa': 54)
Berhubungan dengan ayat
tersebut,
"Allah
menganugrahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam
tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah) kepada siapa
saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang
dianugrahi al-Hikmah itu, ia benar-benar telah
dianugrahi karunia yang banyak..." (Surat al-Baqarah:
269)Allah telah memberikan anugerah
kepada semua nabi dan rasul. Anugerah ini juga
ditujukan bagi Yesus (as), sebagaimana kita
ketahui dari Al-Qur'an:
(Ingatlah), ketika
Allah mengatakan, "Hai Isa putra Maryam,
ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di
waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu
dapat berbicara dengan manusia di waktu masih
dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah)
ketika Aku mengajar Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan
Injil... (Surat al-Maaidah: 110)
Dan tatakala Isa
membawa keterangan, dia berkata,
"Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan
membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu
sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya,
maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah
(kepada)ku." (Surat
as-Zukhruf: 63)
Dari ayat-ayat yang jelas ini,
dapat kita simpulkan bahwa satu sifat khusus Yesus
(as), sehingga kita dapat mengenalinya adalah
lisannya yang tegas, lugas, dan menyentuh.
Sebagaimana isu-isu lainnya, sikap bicaranya yang
tegas merupakan satu sifat umum yang menyentuh
yang dimiliki oleh para nabi pada umumnya. Kaum
mukminin yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman
kepada kebenaran, dapat menangkap kesan bahwa
perkataan Yesus (as) mempunyai kekuatan yang
khusus sebagaimana yang disebutkan dalam surah
(al-Kahfi: 91) yang khusus diberikan kepada para
utusan Allah. Hikmah yang dia perankan, diagnosis
yang sempurna yang dia buat, dan solusi-solusi
cerdas yang dia bawa akan menjadi tanda-tanda yang
jelas dari pemberian khusus yang dianugerahkan
Allah. Tidak ada seorang pun di sekelilingnya yang
akan dapat memainkan peran seistimewa perannya,
yang akan membuat kemuliannya lebih jelas lagi.
4. Dia sangat terpercaya
Setiap rasul yang
memperkenalkan dirinya kepada kaum di mana dia
diutus, dia akan mengatakan:
"Sesungguhnya, aku
adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus)
kepadamu." (Surat asy-Syu'araa': 107)
Kepercayaan yang dimiliki oleh para rasul adalah
suatu hasil dari ketaatan mereka kepada Kitab dan
agama Allah serta kewajiban-kewajiban yang
dibebankan-Nya. Mereka secara cermat mengamati
norma-norma yang dibuat Allah dan tidak pernah
menyimpang dari jalan-Nya yang benar. Mereka hanya
berkeinginan untuk mendapatkan kenikmatan yang
baik dari Allah; mereka tidak pernah
menyekutukan-Nya. Dalam Al-Qur'an, Allah
memberikan gambaran kepada kita tentang sifat para
nabi dan rasul ini. Misalnya, Musa (as)
memperkenalkan dirinya kepada kaumnya di mana dia
tinggal:
Sesungguhnya,
sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir'aun dan
telah datang kepada mereka seorang rasul yang
mulia, (dengan berkata), "serahkanlah
kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israel yang kamu
perbudak). Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah
yang dipercaya kepadamu."
(Surat ad-Dukhaan: 17-18)
Tidak diragukan, kaum-kaum
tersebut biasanya tidak mampu untuk menghargai
sifat penting dari para nabi dan rasul ini. Selain
itu, penolakan untuk melepaskan cara hidup yang
dungu yang mereka perturutkan selama ini dan
penolakan untuk hidup dengan agama yang benar yang
disampaikan oleh para nabi kepada mereka, biasanya
mereka tunjukkan dengan sikap intoleran kepada
para utusan Allah tersebut. Hanya setelah beberapa
saat berlalu, mereka baru memahami bahwa para nabi
itu terpercaya. Nabi Yusuf (as) adalah salah satu
contoh yang baik yang bisa dikemukakan di sini.
Dia telah diuji dengan berbagai kesulitan selama
periode yang tidak sebentar; pertama-tama, di
dijual sebagai seorang budak dan kemudian
dipenjara selama beberapa tahun. Namun, atas
kehendak Allah, ketika waktunya tiba, dia dikenali
sebagai seorang yang terpercaya oleh manusia dan
raja memberikannya kepercayaan sebagai bendahara
negara:
Dan raja berkata,
"Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia
sebagai orang yang dekat kepadaku." Maka
tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia
berkata, "Sesungguhnya, kamu (mulai) hari ini
menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi
dipercayai pada sisi kami" (Surat Yusuf: 54)
Sifat-sifat para nabi ini yang
disebutkan dalam Al-Qur'an juga akan dapat diamati
pada diri Nabi Yesus (as). Pada saat kedatangannya
yang kedua ke bumi, sebagai seorang yang tidak
pernah mengubah hukum Allah, dia akan dikenal
karena sifat keterpercayaannya. Allah akan
menyediakan pertolongan-Nya untuknya, sebagaimana
yang telah Dia perbuat kepada seluruh nabi dan
rasul yang lain, dan seiring waktu, sifatnya yang
terpercaya akan termanifestasi.
5. Dia di bawah perlindungan Allah
Dan sesungguhnya
telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami
yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka
itulah yang pasti mendapatkan pertolongan. Dan
sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti
menang.
(Surat as-Shaaffaat: 171-173)
Allah telah menganugerahkan
kemuliaan kepada para utusan-Nya atas manusia
lainnya. Dia memberikan kekuatan kepada mereka
untuk mengalahkan musuh-musuh mereka dan
melindungi mereka dalam melawan semua kelompok
musuh. Pada saat berada dalam tahap pengambilan
keputusan atau pada saat pelaksanaan suatu
rencana, Allah selalu mendukung mereka.
Salah satu tanda lain bagi umat
yang beriman yang sedang menanti Yesus (as),
utusan Allah, adalah pemberiannya dalam membuat
semua yang dilakukannya berakhir dengan
keberhasilan. Misalnya, keputusan atau metode yang
digunakannya, semua itu membawa hasil nyata bagi
dirinya sendiri dan umat manusia di sekelilingnya.
Benarlah, beberapa peristiwa yang tampaknya
bertentangan dengan kemaslahatan publik akan
segera terbukti sebaliknya. Peristiwa-peristiwa
seperti itu akan mengindikasikan keabsahan
putusannya. Hal tersebut terjadi karena Allah
memberikan keyakinan kepada para utusan-Nya bahwa,
di bawah kondisi apa pun, mereka akan tetap
memperoleh kemenangan. Karena itu, kedatangan
Yesus (as) yang kedua akan menjadi sangat berbeda
dari kedatangannya yang kali pertama karena yang
kali kedua ini ia akan menang di bawah panji
Islam. Janji ini menjamin seluruh kesuksesan Yesus
(as) akan tercapai pada misinya.
Tentu akan menjadi begitu jelas
bahwa hal ini akan menarik perhatian umat yang
beriman untuk mengikutinya. Sementara itu, para
musuhnya juga akan mengamati tabiat yang luar
biasa dari situasi ini, namun mereka akan gagal
untuk mengenali bahwa ini merupakan petunjuk yang
nyata dari Allah. Gerak-geriknya yang selalu
membawa kebaikan, akan tetap menjadi suatu misteri
bagi mereka. Hal tersebut mudah dipahami karena
tujuan utama mereka dalam kehidupan ini adalah
untuk menghadang orang-orang yang berbeda ini,
yang mereka anggap sebagai "seorang manusia
seperti diri mereka sendiri". Akan tetapi,
sebagaimana dinyatakan dalam ayat,, "Kemudian
Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang
yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman."
(Surat Yunus: 103)
Allah akan mengupayakan seluruh usaha mereka
menjadi tidak berarti dan menolong para
utusan-Nya. Komplotan-komplotan tersebut, yang
berusaha atau berjuang menentangnya, tidak akan
pernah berhasil.
6. Dia tidak akan memintah upah untuk
pengabdiannya
Seluruh nabi dan rasul yang
dikisahkan dalam Al-Qur'an berusaha keras untuk
mengabdi di jalan Allah tanpa meminta balasan
sebagai upah. Hanya satu yang mereka harapkan,
yaitu keridhaan Allah. Bukan dunia tujuan mereka
dan bukan keuntungan materi yang mereka inginkan
dari umat manusia. Salah satu ayat dalam Al-Qur'an
menjelaskan kebaikan dari para nabi ini,
Hai kaumku, aku
tidak memintah upah kepadamu bagi seruanku ini.
Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah
menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?
(Surat Huud: 51)
Kebaikan yang umumnya dimiliki
oleh para utusan Allah ini juga akan tampak para
diri Yesus (as). Pada kedatangannya yang kedua,
dia akan menyeru umat manusia di seluruh dunia
kepada agama yang benar yang berasal dari Allah.
Akan tetapi, kita pun seharusnya mengingat bahwa,
sebagaimana dalam seluruh aspek, hanya umat yang
berimanlah yang akan mengenali dan menghargai
sifat-sifatnya. Selain itu, meskipun
musuh-musuhnya mengenalinya, mereka akan
menyebarkan fitnah tentang dia, yang merupakan
pengulangan sejarah terhadap apa yang pernah
diamali oleh para nabi dan rasul terdahulu. Yang
paling mungkin, fitnah-fitnah ini adalah termasuk
"bahwa dia sedang mencoba mendapatkan
keuntungan pribadi". Yakinilah, Allah akan
membuktikan ketidakbenaran fitnah-fitnah ini dan
menolongnya, sebagaimana Dia telah memberikan
petunjuk untuk melakukan kebaikan-kebaikan.
7. Dia pengasih dan penuh rahmat kepada umat
yang beriman
Sifat lainnya yang dimiliki
oleh para utusan Allah adalah "rasa kasih dan
sayang" mereka terhadap orang-orang yang
beriman. Bersikap kasih dan sayang kepada
orang-orang yang beriman yang mengikuti mereka,
telah membuat semua utusan Allah berusahak keras
untuk meningkatkan karakter umat yang beriman
untuk kebaikan mereka baik di dunia maupun di
akhirat. Sifat yang paling berbeda yang dimiliki
Nabi Yesus (as) adalah rasa belas kasihnya kepada
umat yang beriman. Allah menerangkan sifat ini,
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah
(saw) dan juga murapakan sifat umum yang dimiliki
seluruh utusan Allah,
Sesungguhnya,
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (kebaikan dan keselamatan)
bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin. (Surat at-Taubah:
128)
Yesus (as) juga akan mempunyai
"perhatian yang mendalam" terhadap umat
yang beriman di sekelilingnya. Ketulusan yang
melekat pada dirinya ini akan memberikan satu
bukti konkret bahwa dia adalah Yesus (Isa) (as)
yang riil.
Dia Tidak Akan Mempunyai Sanak Saudara, Keluarga,
atau Kerabat di Bumi 
Yesus (as) akan dikenali dengan
sifat-sifatnya yang telah disebutkan dalam
Al-Qur'an. Walaupun demikian, ada beberapa faktor
yang dapat menyingkap identitasnya. Tidak
diragukan, salah satunya akan menjadi fakta bahwa
dia tidak akan mempunyai sanak saudara, keluarga,
ataupun kerabat di muka bumi ini. Tentu, tidak ada
seorang pun yang mengetahuinya ketika dia datang
ke bumi untuk kali kedua. Tidak ada seorang pun
yang akan keluar dan mengatakan, "Saya telah
mengenalnya sejak dulu. Saya telah melihatnya
ketika...," secara sepontan karena
orang-orang yang pernah mengetahuinya, hidup dan
meninggal dua ribu tahun yang lalu. Selanjutnya,
tidak ada seorang pun yang telah menyaksikan
proses kelahirannya, masa kecilnya, masa muda atau
dewasanya. Tidak ada seorang pun yang mengetahui
persis tentang dirinya.
Sebagaimana telah diterangkan
pada bab-bab terdahulu, Yesus (as) hadir kembali
atas perintah Allah, perintah "jadilah!"
Setelah beribu tahun, adalah sesuatu yang alami
bahwa dia tidak mempunyai sanak saudara di muka
bumi. Allah menggambarkan suatu analogi antara
kondisi Yesus (as) dan Adam (as):
Sesungguhnya,
misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah
seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam
dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya,
"Jadilah!" maka jadilah dia. (Surah Al Imran: 59)
Sebagaimana disebutkan dalam
ayat di atas, Allah memberikan perintah
"Jadilah!" kepada Adam dan kemudian dia
tercipta. Cara Yesus (as) terlahir pada waktu kali
pertamanya juga sama meskipun dia mempunyai
seorang ibu. Adam tidak mempunyai seorang ibu.
Adam tidak mempunyai orang tua begitu juga Yesus
(as) untuk kedatangannya yang kali kedua.

CONCLUSION
Dalam sejarah umat manusia,
akan diutusnya Yesus (as) ke bumi untuk kali
keduanya oleh Allah merupakan sesuatu yang
benar-benar diharapkan oleh seluruh umat manusia.
Hanya segelintir manusia yang akan menikmati
peristiwa ini. Selanjutnya, dia akan menjadi
seorang "penolong" yang diberkati yang
diutus kepada seluruh umat manusia. Tentu, pada
masa terjadinya kerusakan dan ketidakteraturan
yang terus-menerus di dunia, semua umat manusia
memohon seorang "penolong" dari Allah.
Allah memberikan jawaban terhadap permohonan
mereka:
Mengapa kamu tidak
mau berperang di jalan Allah dan (membela)
orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya
berdo'a, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami
dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan
berilah kami pelindung dari sisi Engkau!"? (Surat
an-Nisaa': 75)
Sebagaimana disebutkan
terdahulu, adapun "penolong" yang
dimaksud pada masa kini adalah terjadinya
penetrasi nilai-nilai Al-Qur'an ke dalam jiwa dan
masyarakat kita. Mengenai kedatangannya yang
kedua, Yesus (as) akan dengan sepenuh hati
mengikuti nilai-nilai mulia yang diturunkan oleh
Allah ini dan berusaha keras secara murni untuk
menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada umat
manusia di seluruh dunia.
Pengetahuan tentang hal-hal
gaib dan peristiwa yang akan terjadi di masa yang
akan datang merupakan sesuatu yang hanya diketahui
oleh Allah. Akan tetapi, mereka yang mengharapkan
masa yang diberkati ini dan orang-orang di masa
itu haruslah menjalankan kewajiban-kewajiban yang
penting. Seperti halnya Yesus (as) akan melindungi
dan membimbing seluruh umat yang beriman, seluruh
umat yang beriman itu pun harus sepenuh hati
mendukung Yesus (as) dan menolongnya dalam
pelayanan yang ditujukan hanya untuk Allah. Dengan
kata lain, di masa kini, selama kedatangannya yang
kedua, umat beriman seharusnya tidak pernah
menyebabkan dia memohon kembali, "Siapakah
yang akan menjadi penolong-penolongku untuk
(menegakkan agama) Allah?" (Surah Ali Imran:
52) Jika tidak, seseorang akan merasakan
penyesalan dan kesengsaraan yang mendalam, baik di
dunia maupun di akhirat. Allah dengan jelas
mengancam mereka yang tidak mau bersyukur:
Kemudian Kami utus
(kepada umat-umat itu) rasu-rasul Kami
berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang
kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami
perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang
lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur
(manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang
yang tidak beriman. (Surat al-Muminuun: 44)
Sebalilknya, mereka yang
mengikuti dia, yang memberikan padanya dukungan
yang tulus, dan mengadopsi nilai-nilai Ilahiah
yang dibawanya, akan mendapatkan apa yang mereka
harapkan, yaitu kenikmatan, rahmat dan surga Allah
yang abadi. Hal ini merupakan janji yang pasti dan
Allah telah memberikan kabar gembira:
(Dan mengutus)
seorang rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat
Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum)
supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari
kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman
kepada Allah dan memasukkannya ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Sesungguhnya, Allah memberikan
rezki yang baik kepadanya
(Surat at-Thalaaq: 11)
Kita bersyukur kepada Allah
Yang Mahakuasa, Yang akan mengangkat derajat
hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya pada suatu
peristiwa akbar, yaitu kedatangan Yesus (Isa) (as)
dan menganugerahkan kepada mereka suatu kesempatan
mahapenting untuk mendapatkan kebaikan dalam
kehidupan mereka di akhirat kelak.
Dan kesejahteraan
dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi
Allah Tuhan seru sekalian alam.
(Surat ash-Shaaffaat: 181-182)
-----------------------------------------------------------------------------------------
1. Said-i Nursi, The Letters,
The Fifteenth Letter, hlm.54
2. Said-i Nursi, The Rays, The
Fifth ray, hlm. 487
KEMBALI |